Rabu, 04 Juli 2018

RA Kartini , Al Qu'ran dan Kh Sholeh Darat


Copas dari grup lain tanpa edit, kisah hebat berikut:

*RA. Kartini, Tafsir Al Qur'an dan KH. Saleh Darat*

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

"Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?"

"Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajarp Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca".

"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya".

"Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?"

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya".

"Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya".

Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, menceritakan pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat dan menuliskan kisah tsb sbb:

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai

Simbah penjual pisang


*COPAS* dari grup sebelah
Semoga bermanfaat

"Wah…pisange sae-sae, mbah." jareku karo ndoprok ngarepe simbah sing dodol gedang.

"Lha monggo diborong, niki pisang panen piyambak." kata simbah itu riang.

Wis sepuh tapi sik semangat dodolan.
"Iki pisang kepok kuning, enak dikolak. Sing niki kepok putih, yen digoreng legi. Sing niku pisang pista, kulite tipis, wangi. Tapi mpun ditumbas mergo dereng mateng."

Aku hanya diam memperhatikan gerak tangane sing cekatan, meskipun  rodok ndredheg.
"Sadeane mpun dangu, mbah?"
"Dereng. Niki nguber rejeki damel riyaden."
"Putrane pinten, mbah?"
"Kathah, glidik sedanten."
"Kok mboten istirahat mawon, siyam-siyam koq sadean."
"Lha nggih mergi siyam niku, mboten angsal istirahat. Mumpung Gusti Allah paring ganjaran kathah."

Cleguk.....krungu jawaban ngene rasane kudu nguntal sandal. Jawabane menohok.
Tak delok simbah ngelap kening dan dahinya sing dleweran keringet nganggo pucuke jilbab.
Diantara para penjual dipinggir jalan depan pasar, simbah iki nggelar dagangane tanpa iyup iyup.
Padahal panase ruarr biyasah.
Wis kudu mokel, raup es dawet.

"Jenengan wangsul jam pinten, mbah?"
"Sakderenge ngashar kulo mpun wangsul. Kulo kedah ndamelaken wedang kangge lare-lare TPQ."
"Koq kedah nyiapaken? Ingkang mengharuskan sinten mbah?"
"Njih klo piyambak?"
"Ooo....ngaten. Nopo sakben dinten siyam?"
"Njih, wong cuma lare seket."
"Wah....hebat mbah."
"Halah cuma wedang kalih jajan alit-alit. Sing penting lare-lare niku rajin ngaji kulo mpun remen. Pokoke ojo niru mbahe sing cuma iso patehah."

Cleguk maneh. Ngene iki enake nguntal opo neh?
Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.
"Koq kathah, bade damel nopo?" si mbah heran.
Aku hanya tersenyum.
"Sedoyo pinten, mbah?"
Simbah menyebutkan nominal yang membuatku tercengang.
"Koq murah mbah?"
"Mboten nopo, niku mpun pas. Kulo mboten kulakan, panen piyambak."
"Njih mbah maturnuwun." kataku sembari mengulurkan uang.
"Waduh…ngapunten, kulo mboten enten susuke. Dereng kepayon."
"Kulo tukar riyen mbah."

Aku sengaja meninggalkan simbah.
Pisang telah kuletakkan di motor.
Agak menjauh dari perempuan sepuh itu.
Kumasukkan beberapa lembaran uang yang masih baru, ke dalam amplop.
Cukup dibagi satu satu untuk anak TPQ
yang katanya "cuma lare saket".
Penutup lem amplop kubuka lalu kurapatkan.
"Niki mbah, sampun pas njih, pisange kulo tumbas."
Simbah nampani amplop karo tangane sik dredheg.

Tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.
Esoknya aku mampir lagi, tapi kosong.
Berikutnya aku mampir lagi, kosong juga.
Penasaran kutanyakan pada ibu pedagang sebelahnya.
"Mbahe koq mboten sadean, mbak?"
"Oh mboten, piyambake sadean nek panen mawon."
"Sampeyan ta sing mborong gedange wingi? Mbahe sampek nangis ngguguk. Jarene aku bejo banget entuk Qodaran."

Qodaran, barangkali maksude Lailatul Qodar.
Malam yang konon lebih baik dari 1000 bulan.

Para malaikat turun dari langit,
Langit hati kita. Menyelesaikan segala urusan.
Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki.
Pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula.
Rejeki sesuai kapasitas kita.
Lantas siapakah yang mendapatkannya ?

Barangkali perempuan sepuh, bakul gedang iku sing entuk.
Bukan karena ia ahli ibadah....
Bukan pula karena I’tikafnya yang  kuat di masjid.
Tapi dialah pelaksana dari yang katanya "cuma iso patehah".

Kesungguhan I’tikaf yang luar biasa.
Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa.
I’tikaf di masjid yang digelar dalam keluasan yang maha.
Bukan masjid yang sekedar bangunan ibadah.
Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan jajanan bagi seketan bocah selama puasa, sungguh bukan perkara mudah.
Hanya cinta tuluslah yang bisa.

Maka…malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan.
Tak bisa dijujug dengan akhiran,
semua butuh proses, karena karunia terindah butuh wadah.
Yang dibangun dengan menapis kebaikan sebelum, selama dan sesudah Ramadhan.
Itulah sesungguhnya....QODARAN.

Negara tentrem amarga para satria pinandhita.
Bengi shalat tahajud,

Teladan Abu Bakar Ash Shiddiq


Teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Pada suatu hari, Umar mengamati Abu Bakar Ash-Shiddiq di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh, Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya.

Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu, dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk itu.

Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya.

Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.

Setelah Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu.

Umar tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu’anhu.

Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.”

Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air mata. Kemudian ia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Wahai Abu Bakar, sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu.” (maksudnya, khalifah berikutnya sesudah kekhalifahan Abu Bakar harus bekerja lebih keras, agar mampu menandingi kwalitas kekhalifahan Abu Bakar).

***

Sungguh luar biasa, Abu Bakar, seorang Khalifah mampu melakukan tugas kemanusiaan kepada Nenek tua yang buta, sebatang kara, tanpa ingin diketahui seorangpun apa yang dilakukannya.
Pengabdian pada sesama yang begitu tulus tanpa pamrih.
Dia bukan merendahkan dirinya, justru kwalitas dirinya meningkat luar biasa.

Kisah serangkai bunga


Lestari Tk:
*mohon izin meneruskan sebuah postingan dari seorang kawan..*


Seorang sopir turun dari mobil mewah di depan tempat pemakaman umum.

Ia berjalan menuju pos penjaga kuburan & berkata :
“Pak, tolong temui nyonya di mobil itu,
karena tak lama lagi ia akan meninggal!”

Dengan tergesa gesa penjaga kuburan itu segera berjalan menghampiri sang nyonya.

Seorang perempuan lemah, berwajah sedih membuka pintu mobilnya, berusaha tersenyum & berkata :

“Saya....Ibu yg selama ini mengirim uang tiap dua minggu sekali agar Anda dapat membeli seikat bunga & menaruhnya di atas makam anak saya.

Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan & kebaikan hati Anda.”

 “O..., jadi Nyonya yg selalu mengirim uang itu?
Maaf Nyonya, memang uang yg dikirimkan itu selalu saya belikan bunga,  tetapi saya tidak pernah menaruh bunga itu di pusara anak Nyonya.”
jawab pria itu.

“Apa?”,
perempuan itu kaget.

"Ya... Nyonya, karena menurut saya, orang yg sudah meninggal tidak akan pernah melihat keindahan bunga tersebut.

Karena itu setiap bunga yg saya beli, saya berikan kepada mereka yg ada di rumah sakit,
Orang miskin yg saya jumpai, atau
saya berikan kepada mereka yg sedang bersedih.

Orang2 yg masih hiduplah yg dapat menikmati keindahan & keharuman bunga2 itu, Nyonya,”
jawab pria itu.

Perempuan itu terdiam.

Tiga bulan kemudian, seorang perempuan Tua namun terlihat cantik dan semangat turun dari mobilnya & berjalan ke arah pos penjaga kuburan.

"Selamat pagi, apakah masih ingat saya ? ......

Saya Ibu yg tiga bulan lalu datang menemui Anda,
Saya berterima kasih atas nasihat yg Anda berikan saat itu.

Anda benar,
bahwa memperhatikan &  membahagiakan mereka yg masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi yg sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan bunga2 itu ke Rumah sakit atau panti jompo, org-org yg sedang susah, bunga-bunga itu tidak hanya membuat mereka Bahagia,
.........tetapi .........
saya juga  turut Bahagia,”
katanya sambil tersenyum.

“Sampai saat ini dokter2 tidak tahu mengapa saya bisa sembuh,  tetapi saya benar2 yakin. bahwa ........
*Berbagi kebahagiaan dengan orang lain*
*adalah obat yg memulihkan saya !”*

*Jangan pernah  mengasihani diri sendiri karena akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan.*

*Dengan menolong orang lain sesungguhnya kita  sedang menolong diri sendiri.*

*"Hati yg gembira adalah obat yg manjur"*.

*"Menyenangkan orang lain...akan membuat kita Bahagia"*.

~Melihat keatas memperoleh semangat untuk maju.....
~Melihat kebawah Bersyukur atas semua yg Ada.......
~Melihat kesamping Semangat Kebersamaan........
~Melihat kebelakang  sebagai Pengalaman Berharga....
~Melihat ke dalam untuk Intropeksi.....
~Melihat ke depan untuk .....*MENJADI LEBIH BAIK*.

Awali selalu dengan

BERUCAP BAIK
BERPIKIR BAIK DAN
BERTINDAK YANG BAIK

Bahagia ......Secukupnya
Sedih ..........Seperlunya
Mencintai ...Sewajarnya
........TAPI.........
*BERSYUKURLAH SEBANYAK-BANYAKNYA*

Selamat  menjalankan ibadah puasa di hari ke 14.Semoga Allah sena ntiasa melindungi kita dari lapar dan haus. Tetaplah Smakin m'Perbanyak ibadah dan Tilawah Al Qur'an..
๐Ÿ’•๐Ÿ˜˜๐Ÿ’๐ŸŒน

5 Nasehat hadapi pemilu


Nasehat *5* Tokoh Menghadapi Pemilihan Legislatif, Pilkada & Pilpres.

*1. Ali bin Abi Thalib ra*

_“Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”_

*2. Syaikh Yusuf Qardhawi (Ketua Asosiasi Internasional Cendekiawan Muslim)*

Setidaknya ada 3 (tiga) cara dalam mempertimbangkan pilihan:

• Jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya.

• Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik.

• Jika semuanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

*3. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA. M. Phil. (Ketua MIUMI Pusat, putra Pendiri Pesantren Gontor)*

_"Jika anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah & anggota DPR, atau parpol Islam. Itu hak anda. Tapi ingat jika anda & jutaan yang lain tidak ikut pemilu maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan.”_

4. *Recep Toyyib Erdogan*
 Jika orang *Baik*  tidak ikut terjun ke *politik*, maka para *penjahatlah* yang akan *mengisinya*.

5. *Necmetti Erbakan*
   Muslim yang tidak peduli *Politik* akan di pimpin oleh *Politikus* yang tidak peduli kepada *islam*

*Jangan Golput ya*  Kejahatan akan timbul tatkala orang baik semua pada DIAM.

Inflight safety


[24/6 19:24] Hery Suharyana: *INFLIGHT SAFETY*

Pernah liat pramugari bawel banget nyuruh buka penutup jendela, tegakkin sandaran kursi sama nutup meja ???

Tapi pasti kebanyakan orang belum tahu alasan kenapa waktu *take off* sama *landing* , pramugari selalu minta untuk tegakin sandaran kursi, tray table nya harus di tutup, penutup jendela harus dibuka, terus yang duduk di deretan pintu darurat harus free dari semua tas dll ?

Jadi, alasannya karena 90% kecelakaan pesawat terjadi saat take off dan landing.
90% kecelakaan pesawat terjadi di 8 menit setelah take-off dan 3 menit sebelum landing.
Sehingga disebut juga "Critical Eleven"

Dan disaat itu terjadi, penumpang cuma punya waktu *90 detik* buat keluar dari pesawat.
Kalo enggak keluar, penumpang bisa mati karena berbagai hal, dari smoke inhalation atau kekurangan oxygen, atau pesawat sinking incase of ditching (water landing).

Satu emergency exit di cabin, didesain buat evacuate sekitar 65 orang dalam waktu  1.5 menit itu.

Tegakin sandaran apalagi disaat panik, bisa habisin waktu 10 detik, dan disaat evacuation 1 detik itu udah masalah hidup dan mati.

Biasakan untuk menegur kalau penumpang didepan kita tidak menegakan sandaran kursinya, karena disaat ada emergency landing, yang bakalan kena dampak adalah orang yang duduk dibelakangnya.

Karna bakal trapped (terjebak) dan enggak bisa keluar dari kursi...sedangkan penumpang di depan itu pasti akan lari keluar secepat mungkin supaya bisa selamat.

Bukan cuma itu, dalam penerbangan dimalam hari, lampu cabin juga pasti diredupkan ?
Alasannya sama, karena dalam waktu 90 detik semua penumpang harus keluar maka enggak ada waktu yang boleh terbuang.
Disaat mata terbiasa melihat terang kemudian lampu mati, pasti butuh beberapa waktu supaya mata bisa adaptasi dengan pencahayaan yang gelap...maka dari itu lampu sengaja diredupkan supaya mata tidak perlu adaptasi lagi disaat ada emergency landing.

Kalau penutup jendela kabin mesti dibuka itu kenapa ?

Di training pilot dan pramugari ada kelas yang namanya "CRMC", jadi kelas tentang komunikasi.
Karena 70% lebih kecelakaan pesawat terjadi karena kurang komunikasi antara semua orang, yaitu antara pramugari, pilot maupun penumpang.

Dalam penerbangan kita harus gunakan semua info yang ada , termasuk dari penumpang.

Kaca dibuka supaya penumpang bisa lihat keadaan luar.
Contoh ada kebakaran di sayap, kapten enggak bisa lihat, pramugari enggak lihat. mungkin malah penumpang yang lihat dan bisa kasih info supaya bisa secepat mungkin evakuasi
Atau kalau di negara Eropa , kadang sayap pesawat beku karena ada es, penumpang bisa lihat dan kasih info supaya kapten tahu dan kita bisa melakukan perbaikan sebelum terbang.

Jadi kesimpulannya,  dengerin mbak pramugarinya.. karena kalau ada accident, yang bakal kena akibatnya adalah penumpang itu sendiri.
Jadi jangan main-main dengan safety๐Ÿ‘Œ๐Ÿป

Ada tambahnya lagi dengarkan dan perhatian mbak2 prmugari pada saat mereka melakukan safety demo kalau perlu seperti orang Jepang pada saat mbak pramugarinya menunjuk pintu darurat kita ikut menunjuk, pada saat mbak pramugarinya menunjuk lampu hijau dibawah lantai sebagai penunjuk Jaur evakuasi kita Tunjuk lagi dan dengarkan dan di Ingat2 jika ada api di pintu emergency jangan dibuka dll. dan menurut para ahli jika terjadi kepanikan maka otak kita hanya akan ber fungsi 38% saja yaitu: yang sering kita dengan or kita lakukan, yang sering kita Latih dan yang terakhir masuk di pikiran kita  ( nah safety demo adalah kategori yg terakhir masuk dipikiran kita) jadi sekali lagi jangan abaikan ketika mbak2 pramugari melakukan safety demo “Salam Safety”
[24/6 19:25] Hery Suharyana: Numpang share mungkin bpk2 ibu2 sedang naik montor mabur monggo mungkin berguna๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

Yang Aku Takutkan....


*YANG AKU TAKUTKAN.....*

1.Yang aku takut...
hatiku kian mengeras dan sulit menerima nasihat, namun sangat pandai menasihati... .

2. Yang aku takut...
aku merasa paling benar, sehingga tanpa sadar aku sanggup merendahkan yang lain... .

3. Yang aku takut..
egoku terlalu tinggi, hingga aku merasa paling baik di antara yang lain...

4. Yang aku takut...
aku lupa bercermin, namun sibuk berprasangka buruk kepada yang lain.

5. Yang aku takut...
ilmuku akan membuatku menjadi sombong memandang yang berbeda denganku..

6. Yang aku takut..
lidahku makin lincah membicarakan aib saudaraku, namun lupa dengan aibku yang menggunung...

7. Yang aku takut...
aku hanya hebat dalam berkata, namun buruk dalam bertindak..

8. Yang aku takut..
aku hanya pintar dalam berdakwah, namun sulit untuk mentaati...

9. Yang aku takut...
aku hanya cerdas dalam mengkritik, namun lemah dalam memperbetulkan diri sendiri...

10. Yang aku takut,..
aku membenci dosa orang lain.. namun saat aku sendiri buat dosa,aku enggan membencinya...

Ya Allah ya Tuhanku ... Ampunilah kesalahanku, aku berlindung pada-Mu dari segala kelemahanku.
.
.
Lembutkanlah hatiku dan redamkanlah egoku.. .
Jauhkan aku dari sifat berbangga diri,hasad,iri dan dengki... Sesungguhnya aku memohon hidayah dan ampunan-Mu..
Aamiin yaa Rabbal aalamiin.. .

Allahumma Solli Ala Muhammad Wa'ala Ali Muhammad๐Ÿƒ